“Jiihh...!”,
seru Rendra tak suka waktu melihat si playgirl
Jessica merayu-rayu Dimas, anak kelas sebelah. Bahkan Rendra sempet
menendang-nendang dinding dekatnya. “Kenapa?”, tanya Aldo padanya. Rendra dan
Aldo baru saja dari kantin. Sebentar lagi jam masuk selepas istirahat akan
usai. Rendra barusan melihat acara rayu-merayu Jessica pada Dimas yang
dilakukan di depan kelas Dimas. Entah rayuan apa yang dilakukan cewek itu
Rendra tak mau tahu. Tapi tak urung itu membuat Rendra menghentikan langkahnya
di koridor menuju kelas mereka.
“Liat tu!”, ujar Rendra sedikit
ketus sambil memandu mata Aldo untuk melihat apa yang dilihatnya, lalu kembali
melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti tadi. “Udah biasa kali bro, si Jessica kayak gitu. Kalo dia
nggak kayak gitu lagi, baru aneh namanya,” ujar Aldo menimpali sembari
tersenyum. “cemburu?”
Rendra praktis menghentikan
langkahnya dan menoleh ke arah Aldo yang berjalan perlahan bersamanya itu. Dia
membeliakkan matanya. “Jih !Cemburu? Yang bener aja!”
“Ya udah dong kalo emang enggak.
Jangan segitu sewotnya lah,” sahut Aldo seraya merangkulkan tangan kanannya ke
pundak Rendra. Meskipun terkesan nggak suka dengan paham romantisme anutan
Jessica yang cenderung tebar pesona, rayu merayu yang nggak penting atau
gonta-ganti pacar secara kilat, tapi Rendra sempat kepikiran juga. Apa sih yang
membuat Jessica gampang banget dapet pacar baru buat menggantikan pacar dia
yang baru di putusin? Rendra jadi bingung. Apa iya Jessica pake susuk ato punya
jampi-jampi dan sebangsanya yang membuat banyak cowok kepelet dan klepek-klepek
padanya?!
***
“Gimana perkembangan hubungan lo
sama Caca?” tanya Aldo pada Rendra sesaat mereka tiba di kelas. Calista atau
yang biasa dipanggil Caca itu adalah cewek yang lagi giat banget usaha
mendekati Rendra. Caca itu satu kelas dengan si playgirl Jessica.
“Gimana apanya?”, Rendra balik
tanya.
Aldo mendengus. “Jangan muna, man!”, kata Aldo dengan raut wajah bete.
“Jelas-jelas kalo Caca itu deketin lo, terus tanggapan lo gimana?”
Rendra terlihat berpikir-pikir
sejenak, lalu berkata, “Gimana ya? Caca baik sih, pinter, nggak neko-neko,
tapi.... gue nggak mau pacaran ah, sekalipun dia yang nembak duluan!”
“Bushett
dah! Emang dia kurang apa sih ren?”.
Aldo mulai mencak-mencak melihat ego sahabatnya itu.
Rendra menggeleng tegas. “Bukan.
Bukan kurang apa ato gimananya. Gue nggak sejahat itu menilai orang yang lagi
giat banget deketin gue.”
“Lha terus kenapa?”, tanya Aldo lagi
sambil melongos jengah.
“Gue nggak mau jadian sama dia karna
dia pernah pacaran sama Dewa, cowok sombong, ‘sok’, dan terkesan pecundang
itu”.
Aldo ternganga mendengar pengakuan
temannya. Dia merasa alasna Rendra itu nggak masuk akal dan cenderung di
buat-buat. Apa karena pertarungan gengsi dengan Dewa, Rendra melakukan itu?
Kalo emang benar, kasihan sekali Caca.
“Cuma gara-gara itu? Parah banget
lo!!”
“Lo tau sendiri kan Al, gimana
tingkah Dewa ke gue. Tiap ketemu gue bawa’annya sirik terus, apalagi sejak dia
kalah di pemilihan ketua OSIS,” ujar Rendra gregetan pas mengingat setiap
pelakuan Dewa padanya, terutama sejak Rendra memenangi pemilihan ketua OSIS.
Lagian apa iya, sekolah bakal naik pamor kalo ketua OSIS nya seorang cowok yang
lebih mementingkan pacaran di sekolah!!
“Hubungannya dengan Caca apa?”
“Intinya gue ngga mau jadi bahan
ejekan Dewa cs kalo gue pacaran sana Caca yang notabene adalah mantannya Dewa.
Ih! Jijik gue!”
“Tonjokin aja!”, cerocos Aldo tanpa
pikir panjang.
“Gila lo! Pikir-pikir kalo ngomong!
Gue ketua OSIS odong!!”
“Hehehe, iya-iya sorry! Tapi Ren,
kalo itu yang jadi alasan lo, tetep aja lo jahat banget. Caca kan nggak salah
apa-apa.”
“Kok lo jadi nyeramahin gue!” ujar
Rendra kesal. “jangan-jangan lo suka ma caca?”
“Gue nggak suka ma caca, lagian
bukan maksud gue nyeramahin ketua OSIS gue sendiri. Cuman alasan lo tu....”,
Aldo terpaksa menghentikan ucapannya karna di potong cepat oleh Rendra.
“Stop deh!! Gue nggak mau denger
pendapat lo lagi. Pokoknya itu udah jadi keputusan gue. Titik!!”
Aldo akhirnya pasrah untuk tak
meneruskan opininya. Padahal Aldo tahu betul sebenarnya rendra juga suka sama
Caca. Tak sekali dua kali ia menangkap Rendra tengah memeperhatika Caca dari
jauh.
“Oke deh, gue ga bisa ngomong
apa-apa lagi kalo lo udah bilang gitu. Gue Cuma mau bilang, lo jangan terlalu
pilih-pilih cewek yang lagi deketin lo. Lo sendiri yang bilang katanya mau
nglepasin predikat jomblo akut lo itu. Kalo bukan lo sendiri yang melepasnya,
siapa lagi?!”
Dentuman keras menohok hati Rendra
begitu mendengar ucapan Aldo. Setelah berkata seprti itu, sepanjang sisa
pelajaran, Aldo nggak berkata sepatah katapun pada Rendra dan itu praktis
membuat Rendra bingung dan nggek enak hati karna merasa bersalah.
***
“Aku jomblo akut? Kronis? Parah? Up
level?”, tanya Rendra di depan cermin.
Itulah kalimat yang dipertanyakan rendra pada dirinya sendiri.
Aldo secara sengaja menyadarkan Rendra betapa nggak enaknya jadi seorang
jomblo. Rendra sangat-sangta sadar selama dia SMA, dia belum pernah sama sekali
mengcap yang namanya punya pacar. Bukankah biasanya anak-anak remaja akan
sedikit mengisi hari-harinya dengan pacar? Tapi itu nggak berlaku sama sekali
untuk Rendra. Sampai sekarang dia belum ada yang di ajaknya dating malam
minggu, menonton bersama, hang out dan belajar bareng, atau seorang cewek yang
akan di antar dan di jemputnya dari dan menuju sekolah.
Sebenarnya, banyak cewek yang menaruh hati padanya di sekolah
karna selain dia tampan, Rendra juga cowok yang pintar dan aktif. Itu terbukti
dari juara dua di kelasnya dan banyaknya kegiatan di klub basket dan jabatannya
sebagai ketua OSIS. Rendra memang bisa dibilang beruntung dengan semuanya itu,
tapi nggak berlaku dengan jalan cintanya.
Kalo di hitung-hitung ada 6 cewek yang suka sama Rendra,
mereka termasuk cewek-cewek populer di sekolahnya. Bahkan dua di antaranya
sudah menyatakan secara terang-terangan lewat surat atau dari mulut ke mulut
berupa salam, salah satunya caca yang punya nama asli Calista itu. Tapi yang
paling heboh adalah Jessica.
Jessica?!
Ya, Jessica pernah bilang suka sama Rendra bahkan sudah
mengatakannya secara langsung dan itu membuat Rendra terbelalak nggak percaya.
Dia heran, sejak kapancewek itu memperhatikan dia? Namun walaupun begitu Rendra
nggak mau menanggapi pernyataan cinta seorang playgirl macam Jessica. Baginya
cinta dari seorang cewek playgirl itu nggak seratus persen! Benar saja, nggak
lama kemudian Jessica sudah berpaling ke cowok lain.
“Bener kali ya apa kata Aldo kalo gue tu pemilih?”
Rendra bertanya pada dirinya lagi, namun kali ini sedikit
berbeda. Ia sendiri mulai takut kalau pernyataan itu emang benar.
Bukan tanpa alasan Rendra di sebut cowok pemilih dan bukannya
dia nggak mau mengakhiri jomblo akutnya, namun dia cenderung takut memulai satu
hubungan dengan seorang cewek. Rendra takut dikecewain, takut kalo tiba-tiba
hubungannya dengan pacarnya putus di tengah jalan dan membuatnya patah hati.
Rendra tau pasti gimana nggak enaknya kalo harus patah hati gara-gar seorang
cewek. Apalagi dia punya seorang kakak laki-laki yang sering berbagi cerita
perihal jalan cintannya, dan seorang kakak perempuan lagi yang suka gonta ganti
cowok.
Tapi, begitu mengingat wajah vantik Caca, Rendra jadi
kepikiran terus. Apa iya, perasaan sukanya berubah jadi cinta? Tahu-tahu mata
Rendra terpejam dan mengingat kembali sosok Caca.
***
Aldo dan Rendra sudah kembali berbaikan lagi keesokan harinya
seolah-olah nggak pernah ada adu argumen di antara mereka. Keduanya menyadari
kalo persahabatan mereka terlalu kental karena kebersamaan mereka selama ini.
Rendra mau meminta maaf dan Aldo dengan besar hati mau memaafkan.
Seperti sekarang, mereka sedang jalan berbarengan menuju
halaman parkir sekolah seusai jam sekolah berakhir.
“Oya, ada sesuatu buat lo”, kata Aldo sambil merogoh saku
celananya.
“Apaan?”
“Nih!”
Aldo menyodorkan surat berwarna ungu pucat. Tertulis di sana ‘From Caca to Rendra’. Rendra menatap
Aldo bingung, padahal pikirannya sudah melayang pada sosok Caca yang ternyata
tak gentar untuk mendapatkan hatinya.
“Gue cuma bertugas sebagai pengantar. Semua keputusan ada di
lo?”, kata Aldo sambil menepuk pundak sahabatnya.
“Menurut lo, Caca itu gimana sih Al?”
Aldo langsung merasa aneh dengan pertanyaan Rendra tapi
sekaligus juga merasa tertarik karna baru kali ini Rendra bertanya demikian
padanya.
“Lo pasti udah tahu gimana Caca di mata gue”, ujar Aldo sambil
kembali berjalan dengan pelan. Terlihat rendra mengiringi. “tapi, kalo gue jadi
lo mending gue jujur sama diri gue sendiri, jujur sama perasaan gue, kalo gue
sebenarnya juga sayang sama dia..”
Rendra menarik napas dalam. “Lo bener. Cuma gue yang bisa
mengakhiri predikat jomblo parah gue selama ini.”
“Maksud lo?”
“Ya.. gue harus jujur sama diri gue sendiri, sama perasaan
gue, kalo sebenernya gue juga sayang sama Caca. Gue juga nggak mau kalo Caca di
ejekin anak-anak lain karna terlalu mengemis cinta. Caca kan anak baik-baik,
Terserah deh, si Dewa cs mau ngatain gue apa, gue ga peduli”.
“Serius lo mau jadi pacar Caca?” tanya Aldo girang.
Rendra mengangguk tegas. “Hmm.. Ntar malem gue mau nembak dia
langsung di rumahnya”, ujar Rendra senang bercampur lega. Aldo pun
menepuk-nepuk punggung sahabatnya sambil tertawa lebar.
“Berarti mulai besok kita bisa double date donk. Lo sama Caca,
gue sama Via. Mereka kan sahabatan juga. Oke?”
“Gampang deh, bisa di atur. Sekarang gue mau beli bunga, lo
ikut kagak?”, tawar Rendra sambil merogoh kunci mobilnya di saku yang dengan
cepat di sambut anggukan oleh Aldo.




3 komentar:
ringan mi :D
anak sma banget, bukan man banget, hahaha :D
hwehehehe..
thx
udah ending to?
padahal seru lho..
Posting Komentar