Pages

Selasa, 29 Januari 2013

CERPEN : Jomblo, up level !


“Jiihh...!”, seru Rendra tak suka waktu melihat si playgirl Jessica merayu-rayu Dimas, anak kelas sebelah. Bahkan Rendra sempet menendang-nendang dinding dekatnya. “Kenapa?”, tanya Aldo padanya. Rendra dan Aldo baru saja dari kantin. Sebentar lagi jam masuk selepas istirahat akan usai. Rendra barusan melihat acara rayu-merayu Jessica pada Dimas yang dilakukan di depan kelas Dimas. Entah rayuan apa yang dilakukan cewek itu Rendra tak mau tahu. Tapi tak urung itu membuat Rendra menghentikan langkahnya di koridor menuju kelas mereka.
            “Liat tu!”, ujar Rendra sedikit ketus sambil memandu mata Aldo untuk melihat apa yang dilihatnya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti tadi. “Udah biasa kali bro, si Jessica kayak gitu. Kalo dia nggak kayak gitu lagi, baru aneh namanya,” ujar Aldo menimpali sembari tersenyum. “cemburu?”
            Rendra praktis menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aldo yang berjalan perlahan bersamanya itu. Dia membeliakkan matanya. “Jih !Cemburu? Yang bener aja!”
            “Ya udah dong kalo emang enggak. Jangan segitu sewotnya lah,” sahut Aldo seraya merangkulkan tangan kanannya ke pundak Rendra. Meskipun terkesan nggak suka dengan paham romantisme anutan Jessica yang cenderung tebar pesona, rayu merayu yang nggak penting atau gonta-ganti pacar secara kilat, tapi Rendra sempat kepikiran juga. Apa sih yang membuat Jessica gampang banget dapet pacar baru buat menggantikan pacar dia yang baru di putusin? Rendra jadi bingung. Apa iya Jessica pake susuk ato punya jampi-jampi dan sebangsanya yang membuat banyak cowok kepelet dan klepek-klepek padanya?!
***
            “Gimana perkembangan hubungan lo sama Caca?” tanya Aldo pada Rendra sesaat mereka tiba di kelas. Calista atau yang biasa dipanggil Caca itu adalah cewek yang lagi giat banget usaha mendekati Rendra. Caca itu satu kelas dengan si playgirl Jessica.
            “Gimana apanya?”, Rendra balik tanya.
            Aldo mendengus. “Jangan muna, man!”, kata Aldo dengan raut wajah bete. “Jelas-jelas kalo Caca itu deketin lo, terus tanggapan lo gimana?”
            Rendra terlihat berpikir-pikir sejenak, lalu berkata, “Gimana ya? Caca baik sih, pinter, nggak neko-neko, tapi.... gue nggak mau pacaran ah, sekalipun dia yang nembak duluan!”
            Bushett dah!  Emang dia kurang apa sih ren?”. Aldo mulai mencak-mencak melihat ego sahabatnya itu.
            Rendra menggeleng tegas. “Bukan. Bukan kurang apa ato gimananya. Gue nggak sejahat itu menilai orang yang lagi giat banget deketin gue.”
            “Lha terus kenapa?”, tanya Aldo lagi sambil melongos jengah.
            “Gue nggak mau jadian sama dia karna dia pernah pacaran sama Dewa, cowok sombong, ‘sok’, dan terkesan pecundang itu”.
            Aldo ternganga mendengar pengakuan temannya. Dia merasa alasna Rendra itu nggak masuk akal dan cenderung di buat-buat. Apa karena pertarungan gengsi dengan Dewa, Rendra melakukan itu? Kalo emang benar, kasihan sekali Caca.
            “Cuma gara-gara itu? Parah banget lo!!”
            “Lo tau sendiri kan Al, gimana tingkah Dewa ke gue. Tiap ketemu gue bawa’annya sirik terus, apalagi sejak dia kalah di pemilihan ketua OSIS,” ujar Rendra gregetan pas mengingat setiap pelakuan Dewa padanya, terutama sejak Rendra memenangi pemilihan ketua OSIS. Lagian apa iya, sekolah bakal naik pamor kalo ketua OSIS nya seorang cowok yang lebih mementingkan pacaran di sekolah!!
            “Hubungannya dengan Caca apa?”
            “Intinya gue ngga mau jadi bahan ejekan Dewa cs kalo gue pacaran sana Caca yang notabene adalah mantannya Dewa. Ih! Jijik gue!”
            “Tonjokin aja!”, cerocos Aldo tanpa pikir panjang.
            “Gila lo! Pikir-pikir kalo ngomong! Gue ketua OSIS odong!!”
            “Hehehe, iya-iya sorry! Tapi Ren, kalo itu yang jadi alasan lo, tetep aja lo jahat banget. Caca kan nggak salah apa-apa.”
            “Kok lo jadi nyeramahin gue!” ujar Rendra kesal. “jangan-jangan lo suka ma caca?”
            “Gue nggak suka ma caca, lagian bukan maksud gue nyeramahin ketua OSIS gue sendiri. Cuman alasan lo tu....”, Aldo terpaksa menghentikan ucapannya karna di potong cepat oleh Rendra.
            “Stop deh!! Gue nggak mau denger pendapat lo lagi. Pokoknya itu udah jadi keputusan gue. Titik!!”
            Aldo akhirnya pasrah untuk tak meneruskan opininya. Padahal Aldo tahu betul sebenarnya rendra juga suka sama Caca. Tak sekali dua kali ia menangkap Rendra tengah memeperhatika Caca dari jauh.
            “Oke deh, gue ga bisa ngomong apa-apa lagi kalo lo udah bilang gitu. Gue Cuma mau bilang, lo jangan terlalu pilih-pilih cewek yang lagi deketin lo. Lo sendiri yang bilang katanya mau nglepasin predikat jomblo akut lo itu. Kalo bukan lo sendiri yang melepasnya, siapa lagi?!”
            Dentuman keras menohok hati Rendra begitu mendengar ucapan Aldo. Setelah berkata seprti itu, sepanjang sisa pelajaran, Aldo nggak berkata sepatah katapun pada Rendra dan itu praktis membuat Rendra bingung dan nggek enak hati karna merasa bersalah.
***
            “Aku jomblo akut? Kronis? Parah? Up level?”, tanya Rendra di depan cermin.
Itulah kalimat yang dipertanyakan rendra pada dirinya sendiri. Aldo secara sengaja menyadarkan Rendra betapa nggak enaknya jadi seorang jomblo. Rendra sangat-sangta sadar selama dia SMA, dia belum pernah sama sekali mengcap yang namanya punya pacar. Bukankah biasanya anak-anak remaja akan sedikit mengisi hari-harinya dengan pacar? Tapi itu nggak berlaku sama sekali untuk Rendra. Sampai sekarang dia belum ada yang di ajaknya dating malam minggu, menonton bersama, hang out dan belajar bareng, atau seorang cewek yang akan di antar dan di jemputnya dari dan menuju sekolah.
Sebenarnya, banyak cewek yang menaruh hati padanya di sekolah karna selain dia tampan, Rendra juga cowok yang pintar dan aktif. Itu terbukti dari juara dua di kelasnya dan banyaknya kegiatan di klub basket dan jabatannya sebagai ketua OSIS. Rendra memang bisa dibilang beruntung dengan semuanya itu, tapi nggak berlaku dengan jalan cintanya.
Kalo di hitung-hitung ada 6 cewek yang suka sama Rendra, mereka termasuk cewek-cewek populer di sekolahnya. Bahkan dua di antaranya sudah menyatakan secara terang-terangan lewat surat atau dari mulut ke mulut berupa salam, salah satunya caca yang punya nama asli Calista itu. Tapi yang paling heboh adalah Jessica.
Jessica?!
Ya, Jessica pernah bilang suka sama Rendra bahkan sudah mengatakannya secara langsung dan itu membuat Rendra terbelalak nggak percaya. Dia heran, sejak kapancewek itu memperhatikan dia? Namun walaupun begitu Rendra nggak mau menanggapi pernyataan cinta seorang playgirl macam Jessica. Baginya cinta dari seorang cewek playgirl itu nggak seratus persen! Benar saja, nggak lama kemudian Jessica sudah berpaling ke cowok lain.
“Bener kali ya apa kata Aldo kalo gue tu pemilih?”
Rendra bertanya pada dirinya lagi, namun kali ini sedikit berbeda. Ia sendiri mulai takut kalau pernyataan itu emang benar.
Bukan tanpa alasan Rendra di sebut cowok pemilih dan bukannya dia nggak mau mengakhiri jomblo akutnya, namun dia cenderung takut memulai satu hubungan dengan seorang cewek. Rendra takut dikecewain, takut kalo tiba-tiba hubungannya dengan pacarnya putus di tengah jalan dan membuatnya patah hati. Rendra tau pasti gimana nggak enaknya kalo harus patah hati gara-gar seorang cewek. Apalagi dia punya seorang kakak laki-laki yang sering berbagi cerita perihal jalan cintannya, dan seorang kakak perempuan lagi yang suka gonta ganti cowok.
Tapi, begitu mengingat wajah vantik Caca, Rendra jadi kepikiran terus. Apa iya, perasaan sukanya berubah jadi cinta? Tahu-tahu mata Rendra terpejam dan mengingat kembali sosok Caca.
***
Aldo dan Rendra sudah kembali berbaikan lagi keesokan harinya seolah-olah nggak pernah ada adu argumen di antara mereka. Keduanya menyadari kalo persahabatan mereka terlalu kental karena kebersamaan mereka selama ini. Rendra mau meminta maaf dan Aldo dengan besar hati mau memaafkan.
Seperti sekarang, mereka sedang jalan berbarengan menuju halaman parkir sekolah seusai jam sekolah berakhir.
“Oya, ada sesuatu buat lo”, kata Aldo sambil merogoh saku celananya.
“Apaan?”
“Nih!”
Aldo menyodorkan surat berwarna ungu pucat. Tertulis di sana ‘From Caca to Rendra’. Rendra menatap Aldo bingung, padahal pikirannya sudah melayang pada sosok Caca yang ternyata tak gentar untuk mendapatkan hatinya.
“Gue cuma bertugas sebagai pengantar. Semua keputusan ada di lo?”, kata Aldo sambil menepuk pundak sahabatnya.
“Menurut lo, Caca itu gimana sih Al?”
Aldo langsung merasa aneh dengan pertanyaan Rendra tapi sekaligus juga merasa tertarik karna baru kali ini Rendra bertanya demikian padanya.
“Lo pasti udah tahu gimana Caca di mata gue”, ujar Aldo sambil kembali berjalan dengan pelan. Terlihat rendra mengiringi. “tapi, kalo gue jadi lo mending gue jujur sama diri gue sendiri, jujur sama perasaan gue, kalo gue sebenarnya juga sayang sama dia..”
Rendra menarik napas dalam. “Lo bener. Cuma gue yang bisa mengakhiri predikat jomblo parah gue selama ini.”
“Maksud lo?”
“Ya.. gue harus jujur sama diri gue sendiri, sama perasaan gue, kalo sebenernya gue juga sayang sama Caca. Gue juga nggak mau kalo Caca di ejekin anak-anak lain karna terlalu mengemis cinta. Caca kan anak baik-baik, Terserah deh, si Dewa cs mau ngatain gue apa, gue ga peduli”.
“Serius lo mau jadi pacar Caca?” tanya Aldo girang.
Rendra mengangguk tegas. “Hmm.. Ntar malem gue mau nembak dia langsung di rumahnya”, ujar Rendra senang bercampur lega. Aldo pun menepuk-nepuk punggung sahabatnya sambil tertawa lebar.
“Berarti mulai besok kita bisa double date donk. Lo sama Caca, gue sama Via. Mereka kan sahabatan juga. Oke?”
“Gampang deh, bisa di atur. Sekarang gue mau beli bunga, lo ikut kagak?”, tawar Rendra sambil merogoh kunci mobilnya di saku yang dengan cepat di sambut anggukan oleh Aldo.

3 komentar:

Unknown mengatakan...

ringan mi :D
anak sma banget, bukan man banget, hahaha :D

Unknown mengatakan...

hwehehehe..
thx

Unknown mengatakan...

udah ending to?
padahal seru lho..

Posting Komentar

About me

 

naneun oasoyo.. Design by Insight © 2009